Pembaruan Terkini Toggle Comment Threads | Pintasan Kibor

  • pengembaramatrix 12:36 am on December 2, 2015 Permalink | Balas  

    Penipuan Kenduri Arwah 

    Arabiyy

    Penyembah kenduri arwah yang lahap.

    Golongan pondokiyyah yg bid’ah dan penipu mencari makan, nama dan kemegahan menggunakan agama.
    Pengharaman kenduri arwah telah sabit dengan
    1. hadith sahih
    2. ijma’ sahabah
    3. akal yang sihat
    4. fitrah yang bersih

    Tetapi mrk menipu mgkin kerana bodoh atau takabbur jumud beku dan taksub yg terkutuk
    mrk mngatakn kononnya perkara ini khilaf membawa hadith daif lagi palsu dengan tambahan da’i imra’atih, sdgkan yang sahih ialah da’i imra’atin min quraysh dan da’i imra’ah shj tanpa idafah.
    Mrk memg ada dalil tapi pendalilan mrk batil dan sesat, menggnakan hadith daif dan meletakkan hadith itu bukan pada maksudnya yang sebenar.
    الحديث رواه أحمد وأبو داود ، ولفظ أبي داود (دَاعِي امْرَأَةٍ) ولفظ أحمد : (دَاعِي امْرَأَةٍ مِنْ قُرَيْشٍ) .م
    وقد نبه في تحفة الأحوذي على أن الحديث وقع في مشكاة المصابيح بلفظ (داعي امرأته) قال : وهو ليس بصحيح ، بل الصحيح : (داعي امرأةٍ) بغير الإضافة…

    Lihat pos aslinya 15 kata lagi

     
  • pengembaramatrix 11:59 pm on December 1, 2015 Permalink | Balas  

    Ternyata NU Garis Lurus dan Syiah Belajar Dari Google Juga Dalam Menuduh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab 

    Source: Ternyata NU Garis Lurus dan Syiah Belajar Dari Google Juga Dalam Menuduh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab

     
  • pengembaramatrix 10:19 pm on March 29, 2014 Permalink | Balas  

    BBM/SMS DUSTA DAN BATIL TENTANG TANDA-TANDA KEMATIAN PADA HARI KE-100, 40, 7, 3 & 1 SEBELUM SAKARATUL MAUT 

    ABU FAWAZ ASY-SYIRBOONY

    Masalah 255: MENYIKAPI BBM DUSTA DAN BATIL TENTANG TANDA-TANDA KEMATIAN PADA HARI KE-100, 40, 7, 3 & 1 MENJELANG KEMATIAN SESEORANG

    (Dijawab oleh: Pembina BB Group Majlis Hadits)

    TANDA-TANDA KEMATIAN SEBELUM SAKARATULMAUT (abu fawaz)Pertanyaan :
    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ
    Ustadz..
    Ini ada pertanyaan dari  أختي  Dewi bs, member Majlis Hadits Akhwat  23 :

    Allah telah memberi tanda kematian seorang muslim sejak 100 hari, 40 hari, 7 hari, 3 hari dan 1 hari menjelang kematian.

    Tanda 100 hari menjelang ajal :
    Selepas waktu Ashar (Di waktu Ashar karena pergantian dari terang ke gelap), kita merasa dari ujung rambut sampai kaki menggigil, getaran yang sangat kuat, lain dari biasanya, Bagi yang menyadarinya akan terasa indah di hati, namun yang tidak menyadari, tidak ada pengaruh apa-apa. 

    Lihat pos aslinya 458 kata lagi

     
  • pengembaramatrix 11:22 pm on March 19, 2014 Permalink | Balas  

    TAUBATNYA SEORANG ULAMA SYI’AH, Ayatullah `Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl Al-Burqu’i 

    Cahyaiman's Blog

    1465175_629226217120068_1426731892_n

    Sumber : Sunnahdefenceleague.com,

    Syi`ah tertusuk pada jantungnyua, tatkala seorang Ayatullah Al `Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl mengumumkan taubat dan keluarnya dari agama Syi`ah yang kotor itu, akal mereka tidak siap menerima kenyataan pahit seperti ini. Belum sembuh borok akibat Ahmad Al
    Kisrawi Rahimahullah yang bertaubat mendapat hidayah kepangkuan Islam dan memproklamirkan kebatilan agama Syi`ah Imamiyah Ja`fariyah, disusul dengan bala` susulan dengan taubatnya Ayatullah Al `Uzma As Sayyid Abu Al Fadhl Al Burqu`i yang diberi hidayah oleh Allah dan dilapangkan dadanya menerima Islam, menyambut panggilan kebenaran meninggalkan kebathilan dan
    orang-orangnya. Keluarnya Ayatullah Al `Uzma Al Burqu`i benar-benar mengguncang Syi`ah, karena ia (Al Burqu`i) memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan berpengaruh.

    Sekapur Sirih tentang Al Burqu`i
    Dia adalah Sayyid Abu Fadhl bin Muhammad At Taqiy bin Ali bin Musa Ar Ridha Al Burqu`i. Nasabnya kembali kepada jalur Ahlul Bait. Dia adalah selevel dengan Khumaini dalam hal ilmu, hanya saja Khumaini lebih…

    Lihat pos aslinya 1.158 kata lagi

     
  • pengembaramatrix 4:38 am on March 18, 2014 Permalink | Balas  

    Mereka Berbohong Atas Nama Kami ( bagian 2)

    Bismillahirrahmaanirrahim,

    Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah situs blog yang menuduh kami (salafy) sebagai jamaah takfir. Kami adalah jama’ah yang memiliki kerancuan konsep tauhid (salafyindonesia.wordpress.com)

     
  • pengembaramatrix 4:37 am on March 18, 2014 Permalink | Balas  

    Mereka Berbohong Atas Nama Kami ( bagian 1)

    Bismillahirrahmaanirrahim,

    Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah situs blog yang menuduh kami (salafy) sebagai jamaah takfir. Kami adalah jama’ah yang memiliki kerancuan konsep tauhid (salafyindonesia.wordpress.com)

     
  • pengembaramatrix 1:08 am on February 11, 2014 Permalink | Balas  

    Balasan Sesuai Amal Perbuatan 

    Balasan Sesuai Amal Perbuatan.

     
  • pengembaramatrix 1:03 am on February 11, 2014 Permalink | Balas  

    Koleksi Dusta Pemerintah Republik Rafidhah Iran 

    Koleksi Dusta Pemerintah Republik Rafidhah Iran.

     
  • pengembaramatrix 1:12 pm on December 2, 2013 Permalink | Balas  

    ASAL – USUL SYIAH 

    Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, pendukung dan golongan. Sedangkan dalam istilah Syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu yang dikomandoi oleh Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi dari Yaman. Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, lalu Abdullah bin Saba’ mengintrodusir ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamirkan bahwa kepemimpinan (baca: imamah) sesudah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebenarnya ke tangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena suatu nash (teks) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut.

     

    Keyakinan itu berkembang sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil tindakan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian mereka melarikan diri ke Madain.

     

    Aliran Syi’ah pada abad pertama hijriyah belum merupakan aliran yang solid sebagai trend yang mempunyai berbagai macam keyakinan seperti yang berkembang pada abad ke-2 Hijriyah dan abad-abad berikutnya sampai detik ini.

     

    Pokok-Pokok Penyimpangan Syi’ah pada Periode Pertama :

    1. Keyakinan bahwa imam sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
    2. Keyakinan bahwa imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).
    3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari Kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan lain-lain.
    4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.
    5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena keyakinan tersebut.
    6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.
    7. Keyakinan mencaci maki para Sahabat atau sebagian Sahabat seperti Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.(lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql hal. 237).
    8. Pada abad ke-2 Hijriyah, perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaini dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.

    Pokok-Pokok Penyimpangan Syi’ah Secara Umum :

     

    I. Pada Rukun Iman :

    Syi’ah hanya memiliki 5 rukun iman, tanpa menyebut keimanan kepada para Malaikat, Kitab Allah, Rasul dan Qadha dan Qadar, yaitu :

    1. Tauhid (keesaan Allah),

    2. Al-’Adl (keadilan Allah)

    3. Nubuwwah (kenabian),

    4. Imamah (kepemimpinan Imam),

    5. Ma’ad (hari kebangkitan dan pembalasan).

    (Lihat ‘Aqa’idul Imamiyah oleh Muhammad Ridha Mudhoffar dll).

     

    II. Pada Rukum Islam :

    Syi’ah tidak mencantumkan Syahadatain dalam rukun Islam, yaitu :

    1. Shalat,
    2. Zakat,
    3. Puasa,
    4. Haji,
    5. Wilayah (perwalian) (lihat Al-Kafie juz II hal 18)

     

    III. Syi’ah meyakini bahwa Al-Qur’an sekarang ini telah dirubah,

    ditambahi atau dikurangi dari yang seharusnya, seperti :

    وَ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنا عَلى عَبْدِنا فِي عَلِيٍّ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ (الكافي ج 1 ص 417.)

    “wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala ‘abdina FII ‘ALIYYIN fa`tu bi shuratim mim mits lih ” (Al-Kafie, Kitabul Hujjah: I/417)

    Ada tambahan “fii ‘Aliyyin” dari teks asli Al-Qur’an yang berbunyi :

    وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ [البقرة/23]

    “wa inkuntum fii roibim mimma nazzalna ‘ala ‘abdina fa`tu bi shuratim mim mits lih” (Al-Baqarah:23)

    Karena itu mereka meyakini bahwa : Abu Abdillah a.s (imam Syi’ah) berkata: “Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril a.s. kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah 17.000 ayat (Al-Kafi fil Ushul Juz II hal.634). Al-Qur’an mereka yang berjumlah 17.000 ayat itu disebut Mushaf Fatimah yang tebalnya 3 kali lipat Al-Qur’an yang kita miliki (lihat kitab Syi’ah Al-Kafi fil Ushul juz I hal 240-241 dan Fashlul Khithab karangan An-Nuri Ath-Thibrisy). Satu huruf saja dalam Al-Qur’an kita ragukan, maka kita telah keluar dari islam. Bagaimana dengan keseluruhan Al-Qur’an. Seluruh sekte atau aliran sesat dalam islam mengakui keabsahan Al-Qur’an namun mereka mempermainkan tafsirannya, hanya syiah saja yang meragukan Al-Qur’an. Kesesatan mana lagi yang jauh lebih kufur dari syiah. 

     

    IV. Syi’ah meyakini bahwa para Sahabat sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka murtad, kecuali beberapa orang saja, seperti: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifary dan Salman Al-Farisy (Ar Raudhah minal Kafi juz VIII hal.245, Al-Ushul minal Kafi juz II hal 244).

     

    V. Syi’ah menggunakan senjata “taqiyyah” yaitu berbohong,

    dengan cara menampakkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya, untuk mengelabui (Al Kafi fil Ushul Juz II hal.217).

     

    VI. Syi’ah percaya kepada Ar-Raj’ah ( Reinkarnasi )yaitu kembalinya roh-roh ke jasadnya masing-masing di dunia ini sebelum Qiamat dikala imam Ghaib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk balas dendam kepada lawan-lawannya.

     

    VII. Syi’ah percaya kepada Al-Bada’, yakni tampak bagi Allah dalam hal keimaman Ismail (yang telah dinobatkan keimamannya oleh ayahnya, Ja’far As-Shadiq, tetapi kemudian meninggal disaat ayahnya masih hidup) yang tadinya tidak tampak. Jadi bagi mereka, Allah boleh khilaf / lupa, tetapi Imam mereka tetap maksum (terjaga). Na’udzubillahi min dzalik

     

    VIII. Syi’ah membolehkan “nikah mut’ah”, yaitu nikah kontrak dengan jangka waktu tertentu (lihat Tafsir Minhajus Shadiqin Juz II hal.493). Padahal hal itu telah diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang periwayat Ali bin Abi Thalib sendiri.

     

    ~Nikah Mut’ah~

    Nikah mut’ah ialah perkawinan antara seorang lelaki dan wanita dengan maskawin tertentu untuk jangka waktu terbatas yang berakhir dengan habisnya masa tersebut, dimana suami tidak berkewajiban memberikan nafkah, dan tempat tinggal kepada istri, serta tidak menimbulkan pewarisan antara keduanya.

    Ada 6 perbedaan prinsip antara nikah mut’ah dan nikah sunni (syar’i) :

    1. Nikah mut’ah dibatasi oleh waktu, nikah sunni tidak dibatasi oleh waktu.
    2. Nikah mut’ah berakhir dengan habisnya waktu yang ditentukan dalam akad atau fasakh, sedangkan nikah sunni berakhir dengan talaq atau meninggal dunia.
    3. Nikah mut’ah tidak berakibat saling mewarisi antara suami istri, nikah sunni menimbulkan pewarisan antara keduanya.
    4. Nikah mut’ah tidak membatasi jumlah istri, nikah sunni dibatasi dengan jumlah istri hingga maksimal 4 orang.
    5. Nikah mut’ah dapat dilaksanakan tanpa wali dan saksi, nikah sunni harus dilaksanakan dengan wali dan saksi.
    6. Nikah mut’ah tidak mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri, nikah sunni mewajibkan suami memberikan nafkah kepada istri.

    Dalil-Dalil Haramnya Nikah Mut’ah

    Haramnya nikah mut’ah berlandaskan dalil-dalil hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga pendapat para ulama dari 4 madzhab.

    Dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya Shahih Muslim menyatakan bahwa dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhaini, ia berkata: “Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan haji. Pada suatu saat kami berjalan bersama saudara sepupu kami dan bertemu dengan seorang wanita. Jiwa muda kami mengagumi wanita tersebut, sementara dia mengagumi selimut (selendang) yang dipakai oleh saudaraku itu. Kemudian wanita tadi berkata: “Ada selimut seperti selimut”. Akhirnya aku menikahinya dan tidur bersamanya satu malam. Keesokan harinya aku pergi ke Masjidil Haram, dan tiba-tiba aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berpidato diantara pintu Ka’bah dan Hijr Ismail. Beliau bersabda,

     

    « يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّى قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِى الاِسْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَىْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَلاَ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا ».

     

    “Wahai sekalian manusia, aku pernah mengizinkan kepada kalian untuk melakukan nikah mut’ah. Maka sekarang siapa yang memiliki istri dengan cara nikah mut’ah, haruslah ia menceraikannya, dan segala sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya, janganlah kalian ambil lagi. Karena Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan nikah mut’ah sampai Hari Kiamat. (Shahih Muslim II/1024)

     

    Dalil hadits lainnya:

     

    أَنَّ عَلِيًّا – رضى الله عنه – قَالَ لاِبْنِ عَبَّاسٍ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – نَهَى عَنِ الْمُتْعَةِ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الأَهْلِيَّةِ زَمَنَ خَيْبَرَ . رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ فِى الصَّحِيحِ

     

    Dari Ali bin Abi Thalib ra. ia berkata kepada Ibnu Abbas ra bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang nikah mut’ah dan memakan daging keledai jinak pada waktu perang Khaibar (Fathul Bari IX/71)

     

    Pendapat Para Ulama

    Berdasarkan hadits-hadits tersebut diatas, para ulama berpendapat sebagai berikut:

    • Dari Madzhab Hanafi, Imam Syamsuddin Al-Sarkhasi (wafat 490 H) dalam kitabnya Al-Mabsuth (V/152) mengatakan: “Nikah mut’ah ini bathil menurut madzhab kami. Demikian pula Imam Ala Al Din Al-Kasani (wafat 587 H) dalam kitabnya Bada’i Al-Sana’i fi Tartib Al-Syara’i (II/272) mengatakan, “Tidak boleh nikah yang bersifat sementara, yaitu nikah mut’ah”.
    • Dari Madzhab Maliki, Imam Ibnu Rusyd (wafat 595 H) dalam kitabnya Bidayatul Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid (IV/325 s.d 334) mengatakan, “hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut’ah mencapai peringkat mutawatir” Sementara itu Imam Malik bin Anas (wafat 179 H) dalam kitabnya Al-Mudawanah Al-Kubra (II/130) mengatakan, “Apabila seorang lelaki menikahi wanita dengan dibatasi waktu, maka nikahnya batil.”
    • Dari Madzhab Syafi’, Imam Syafi’i (wafat 204 H) dalam kitabnya Al-Umm (V/85) mengatakan, “Nikah mut’ah yang dilarang itu adalah semua nikah yang dibatasi dengan waktu, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, seperti ucapan seorang lelaki kepada seorang perempuan, aku nikahi kamu selama satu hari, sepuluh hari atau satu bulan.” Sementara itu Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya Al-Majmu’ (XVII/356) mengatakan, “Nikah mut’ah tidak diperbolehkan, karena pernikahan itu pada dasarnya adalah suatu aqad yang bersifat mutlaq, maka tidak sah apabila dibatasi dengan waktu.”
    • Dari Madzhab Hambali, Imam Ibnu Qudamah (wafat 620 H) dalam kitabnya Al-Mughni (X/46) mengatakan, “Nikah Mut’ah ini adalah nikah yang bathil.” Ibnu Qudamah juga menukil pendapat Imam Ahmad bin Hambal (wafat 242 H) yang menegaskan bahwa nikah mut’ah adalah haram.

    Dan masih banyak lagi kesesatan dan penyimpangan Syi’ah. Kami ingatkan kepada kaum muslimin agar waspada terhadap ajakan para propagandis Syi’ah yang biasanya mereka berkedok dengan nama “Wajib mengikuti madzhab Ahlul Bait”, sementara pada hakikatnya Ahlul Bait berlepas diri dari mereka, itulah manipulasi mereka. Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang lurus berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih.

     

    Rujukan:

    1. Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, Dirasat fil ahwa wal firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minha.

    2. Drs. KH Dawam Anwar dkk, Mengapa Kita menolak Syi’ah.

    3. H. Hartono Ahmad Jaiz, Di Bawah Bayang-bayang Soekarno-Soeharto.

    4. Abdullah bin Sa’id Al-Junaid, Perbandingan antara Sunnah dan Syi’ah.

    5. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi’ah.

     

     
  • pengembaramatrix 1:07 pm on December 2, 2013 Permalink | Balas  

    Beberapa Kekeliruan Aqidah Syi’ah 

    A. Syirik Terhadap Allah

     

     

    Disebut oleh Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini dalam kitab Ushul Kafi, (khususnya pada bab yang berjudul Bumi seluruhnya adalah milik Imam): Dari Abi Abdullah as berpesan; sesungguhnya dunia dan akhirat adalah kepunyaan Imam, diberikannya kepada yang dikehendakinya dan ditolaknya bagi yang tak diingininya. Ini kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada Imam. [1] Kitab Ushul Kafi. hal. 259 oleh Kulaini. cet. India.

     

    Jelas sekali bagi kita kaum Muslimin untuk mengambil kesimpulan bahwa ajaran mereka tidak benar. Allah azza wajalla mengatakan dalam al-Quran, surat al-A’raf:

    إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ

    “Sesungguhnya bumi adalah kepunyaan Allah, diwariskan kepada orang yang dikehendaki-Nya”. (QS Al-A’raf: 128)

     

    أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

    Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah?(Al-Baqarah: 107).

     

    فَلِلَّهِ الْآخِرَةُ وَالْأُولَى(25)

    “Bagi Allah kesemuanya, akhirat dan dunia,” (an-Najm:  25).

     

    لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

    “Dialah yang memiliki langit dan bumi”. (al-Hadid: 2).

     

    تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ(1)

    “Maha Suci Allah yang di tangan-Nya semua kekuasaan, dan Dia berkuasa atas segalanya”. (al-Mulk: 1).

     

    Kitab-kitab Syiah menulis, bahwa Ali mengatakan, “Sayalah yang pertama dan sayalah yang terakhir,saya yang dhahir dan saya yang batin serta sayalah pewaris bumi .” [2] Kitab Rijal Kashi, hal. 138

     

    Kepercayaan seperti ini jelas salah. Ali bin Abi Thalib tidak pernah mengatakan demikian. Ini jelas dibuat-buat oleh orang Syiah. Ali bin Abi Thalib akan mengatakan apa yang dikatakan Allah dalam al-Quran:

    هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ

     “Dialah yang Pertama dan Terakhir, Yang Dhahir dan yang Bathin”. (al-Hadid: 3).

     

    وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ

    “Allah yang mewariskan langit dan bumi”. (al-Hadid: 10).

    Menuruf tafsiran ulama Syiah yang terkenal, Maqbul Ahmad dalam penafsiran ayat surat az-Zumar:  ayat 69:

    وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ(69)

    Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan.
    Jakfar as-Shadiq mengatakan: Yang punya bumi adalah Imam, maka apabila Imam keluar kepadamu cukuplah akan menjadi cahaya (nur). Manusia tidak akan memerlukan matahari dan bulan. [3] Tarjumah Maqbul Ahmad. (bahasa Urdu) hal. 339. Diterjemahkan secara harfiyah
    Cobalah bayangkan ajaran Syiah yang mengatakan Imam sebagai Tuhan dan makna kalimat:

    بِنُورِ رَبِّهَا

    yang bermaknakan bahwa Imam adalah Tuhan yang memiliki bumi.

    Demikian pula pemutarbalikkan mereka tentang tafsiran ayat az-Zumar dalam al-Quran:

    وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ(65)

    بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ(66)

    Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.  (QS Az-Zumar: 65).
    Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.  (QS Az-Zumar: 66).
    Diriwayatkan dari Jakfar ash-Shadiq dalam kitab Kafi bahwa pengertian syirik, adalah syirik terhadap kekuasaan Ali. Siapa yang syirik kepada Ali akan hapus segala amalannya.
    Disebutkan dalam menafsirkan:

    بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ(66)

    Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.  (QS Az-Zumar: 66).

    Sembahlah Nabi dengan taat dan berterima kasihlah kepada saudara dan anak pamanmu itu yang telah menguatkan segala ototmu. [4]  Tarjumah Maqbul Ahmad. hal. 932.
    Perhatikanlah, bagaimana orang-orang Syiah mengada-adakan sesuatu tentang Jakfar as-Shadiq dalam menafsirkan ayat-ayat Tauhid yang seharusnya memperhambakan diri kepada Allah semata, diputarbalikkan menjadi pemahaman yang syirik terhadap Allah.

     

    Lihatlah bagaimana mereka menafsirkan firman Allah dalam al-Qur’an:

    وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ(56)

    Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS Adz-Dzariyat: 56).

    Jakfar ash-Shadiq menafsirkan dari Husein ra, bahwa dijadikan Jin dan Manusia untuk dikenal dan apabila mereka telah kenal dan tahu, itulah ibadat. Waktu ditanyakan apa maksud “kenal”? Dijawab: agar setiap manusia mengenal Imam di zamannya.” [5] Tarjumah Maqbul Ahmad. hal. 1043.

     

    Disebut oleh Kulaini dalam kitab Ushul Kafi, bahwa Imam Muhammad al-Baqir pernah menyampaikan: Kamilah wajah Allah, kamilah mata Allah di alam makhluk-Nya. Dan kami tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi hamba-Nya. [6] Ushul Kafi, hal. 83.
    Dalam kesempatan lain dikatakan: Kamilah lidah Tuhan, kamilah muka Tuhan dan kamilah mata dari Tuhan di alam ini. [7] Ushul Kafi, hal. 84

     

    Dari  Abdillah as, Jakfar ash-Shadiq mengatakan bahwa Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib pernah menyebut bahwa dia adalah wakil Allah yang menentukan surga dan neraka. Dia mendapatkan sesuatu yang tidak pernah didapat oleh orang sebelumnya, tahu yang baik dan yang tidak baik, tahu bangsa dan keturunan, dan memahami segala sesuatu dengan terperinci baik yang terdahulu maupun yang gaib. [8] Ushul Kafi, hal. 117.

     

    Demikianlah mereka, kaum Syiah, menetapkan sifat ketuhanan (uluhiyah) bagi Ali.
    Maqbul Ahmad, ahli tafsir Syiah menafsirkan ayat:

    كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

    Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. (QS Al-Qashash: 88).

     

    Jakfar as-Shadiq mengatakan: Kamilah wajhullah. Mereka menetapkan Imam sebagai sesuatu yang kekal. Maha Suci Allah, dari segenap penafsiran mereka.

     

    Kulaini menyebutkan bahwa: Para Imam mengetahui yang telah berlalu dan yang akan terjadi, Imam tahu segala yang gaib. Diriwayatkan dari Abi Abdillah Jakfar as-Shadiq bahwa dia mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi, mengetahui apa yang di surga dan apa yang di neraka, mengetahui apa yang telah lalu dan apa yang akan terjadi. [9] Ushul Kafi, hal. 160.

     

    Demikian pula disebut dalam kitab Ushul Kafi; mereka menghalalkan apa yang mereka ingini dan mengharamkan sesuatu menurut kemauannya. Keinginan Para Imam adalah keinginan Allah. [10] Ushul Kafi. hal. 278.

     

    Padahal Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ

    “Wahai Nabi, kenapa engkau menghararnkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah kepadamu?” )At-Tahrim: 1).

     

    Kalau kepada Nabi Muhammad saja Allah menegur mengapa Nabi mengharamkan apa yang halal, bagaimana kalau perbuatan itu diperbuat oleh orang yang bukan Nabi.

     

    Kulaini juga mengatakan: Para Imam tahu kapan akan datang ajalnya, dan mereka mati atas kehendak Imam sendiri. Abi Abdillah Jakfar mengatakan, apabila Imam tidak tahu apa yang akan menimpanya dan ke mana dia akan pergi, tidaklah berhak menjadi Imam.” [11] Ushul Kafi, hal. 158.

     

    Allah subhanahu wa ta’ala.berfirman:

    قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

    “Katakanlah (Muhammad). Tidak ada yang mengetahui langit dan bumi serta yang gaib kecuali Allah”.  (QS An-Naml: 65)

     

    Dalam ayat lain dikatakan:

    وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

    “Allah-lah yang memiliki kunci-kunci yang gaib, tidak seorang pun yang tahu kecuali Dia ( Allah )”.  (QS Al-An‘aam: 59).

     

    Orang Syiah mempersyarikatkan Imam-imam mereka mengetahui yang gaib bersama Allah.Disebutkan pula oleh Kulaini bahwa, apa yang disembunyikan kepada Imam akan diketahuinya semua apabila kita tanyakan. [12] Kitab Ushul Kafi. hal. 193.

     

    Selanjutnya dikatakan dalam kitab Ushul Kafi, buku pegangan Syiah yang ditulis oleh Muhammad bin Ya’kub Kulaini bahwa Para Imam mengetahui segala ilmu yang diketahui oleh Para Malaikat, Nabi-nabi dan Rasul-rasul. Abi Abdillah Jakfar as-Shidiq mengatakan bahwa Allah mempunyai dua macam ilmu: Ilmu yang diajarkan kepada para Malaikat, Nabi dan Rasul yang kesemuanya sudah kami ketahui. Dan ilmu yang akan dimulai oleh Allah (bada-a) terlebih dahulu diajarkannya kepada Para Imam Syiah.

    Demikianlah mereka mendakwakan lebih tahu dari para Malaikat, Nabi dan Rasul. Dan mengetahui apa yang diketahui oleh Allah subhanahu wata’ala. Sungguh satu kebohongan besar serta satu kekufuran.

     

    Kitab Ushul Kafi dan lainnya berupa buku pegangan Syiah penuh dengan ungkapan-ungkapan dan cerita seperti di atas, kami di sini hanya menyebut beberapa contoh belaka atas kebohongan akidah Syiah.

     

    Dalam bahasa Urdu banyak sekali nyanyian yang kesemuanya menunjukkan kesyirikan ajaran Syiah dan pemujaan yang berlebihan terhadap para Imam mereka. Bahkan disebutkan bahwa para Nabi dan Rasul di saat menghadapi kesusahan meminta bantuan dan pertolongan kepada Ali bin Abi Thalib, Nabi Nuh di waktu topan meminta bantuan kepada Ali, Nabi Ibrahim, Luth, Hud dan Syits kesernuanya pernah meminta tolong kepada Ali dan Ali membantu mereka. Ali mempunyai mukjizat yang luar biasa dan sanggup melakukan apa saja. Allahu akbar, sungguh kebohongan yang besar atas nama Ali bin abi thalib Rhadiyallahu anhu

     

    Apakah orang yang mempunyai kepercayaan seperti ini masih pantas kita sebut sebagai orang Muslim? Allah berfirman:

    اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ(62)

    “Allah-lah yang menjadikan segala sesuatu, dan Dia pula yang Berkuasa”.  (QS Az-Zumar: 62).

     

    Dan firman Allah:

    وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا

    “Tidak ada satu pun yang bersyarikat dalam kekuasaan Tuhan”.  (QS Al-Kahfi: 26).

     

    Firman Allah:

    اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

    “Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Hidup dan Berdiri, tidak pernah mengantuk ataupun tidur. Kepunyaan-Nya-lah segala apa yang di langit dan di bumi.” (Qs Al-Baqarah: 255).

     

    Firman Allah:

    وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ(65)

    Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan ( Allah ), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.  (QS Az-Zumar: 65).

     

    Firman Allah:

    إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang yang musyrik dan akan memberi ampunan kepada selain dari musyrik daripada orang yang Dia ingini”. (QS An-Nisaa’: 48).

     

    Firman Allah:

    إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

    “Siapa yang musyrik kepada Allah, tidak akan mendapat (dihararnkan) surga dan mereka akan menemui apineraka”. (QS Al-Maaidah: 72).

     

    Firman Allah:

    إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ(5)

    “Tidak satu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di langit maupun di bumi”.  (QS Ali ‘Imran: 5).

     

    Inilah ayat-ayat yang secara tegas-tegas menyatakan bahwa sesungguhnya Allah sendiri yang menjadikan segala sesuatu. Dialah yang mengatur langit dan bumi, Dialah Yang Berkuasa serta Mengetahui segala sesuatu.

    Orang-orang Syiah menetapkan sifat-sifat Tuhan bagi Imam-imam mereka, apakah ini tidak dinamakan syirik? Sungguh suatu syirik besar dan orang-orang yang mempercayai paham Syiah ini adalah musyrik yang nyata.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya